Sungguh terkadang aku bertanya, ada apa antara aku dan kecoa? Mengapa setelah bertahun-tahun lamanya aku masih belum bisa berdamai dengan makhluk bernama kecoa.

14 tahun yang lalu..

Saat aku kls 3 SD, aku diberi sepatu warisan sepupu.. masih bagus, berwarna hitam bertabur bling2, seperti sepatu penyanyi di tv hwehehe. Pokonya I like it lah.. Pada malam harinya aku sudah tidak sabar ingin segera besok dan pergi ke sekolah dengan memakai sepatu itu..

Ahirnya esok paginya aku berangkat ke sekolah dengan riang karena memakai sepatu ‘baru’.. Rasanya lebih PD gt loh.. hehe..Belajar pun lebih bersemangat..Memang yak, kadang apa yang kita pakai bisa berefek pada psikologis qta (owya?) ya..sampai tiba2 aku merasa ada sebuah gerakan dari sepatu sebelah kananku..ih apa sih? Tapi aku abaikan..dan melanjutkan aktivitas seperti biasa..Maen lompat tali lebih pede dengan sepatu baru, maen ucing2an juga. Termasuk maen beklen (nah klo yang ini emang gak terlalu nymbung, he).. sampai akhirnya tiba di rumah… kubuka sepatu..

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……

Sebuah mayat kecoak yang sudah tidak bisa dikenali lagi identitasnya tergeletak di kaus kaki dan sepatuku. ,I’m so shock U know!!! Sejak saat itu sepatu itu dimuseumkan. Benar-benar pemakaian pertama dan terakhir.. Dan akhirnya akupun mewariskannya pada orang lain lagi, karena melihat sepatu itu, aku merasa melihat mayat kecoa yang mengenaskan. Sejak saat itupula aku mulai menyimpan dendam kesumat pada si kecoa.

5 tahun yang lalu….

Aku sekarang menjadi anak kuliahan. Dan tentunya anak kos. Kebetulan jendela kamarku menghadap ke arah dapur. Ketika itu aku sedang makan mie sambil mendengarkan radio..oh nikmatnya..tidak ada yang mengganggu, benar-benar santai. Tiba2 terbersit dalam benakku, ‘bahkan tidak ada seekor kecoapun yang bisa menggangguku’.. and suddenly, ada sesuatu berwarna hitam yang terbang dari arah jendela, lewat di depan mukaku, lalu menclok di pintu. Saat kutengok, ohh myy god…seekor kecoa besar hitam sekarang ada di pintu kamarku. Ya Allah aku menyesal sudah berpikir tentang ‘dia’. Nafsu makanku langsung hilang, dan saat itu yang kufikirkan adalah bagaimana mengeluarkan kecoa itu. Harus keluar!! Bahkan mati! Sadis yak c gw..but I have no choice..Then I kill it 😦 .

Sejak saat itu akupun percaya dengan peribahasa ‘Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan kita dapatkan’ …hehehe..hikmahnya positive thinking lah..

Beberapa bulan yang lalu..

Aku sedang berjalan pulang dari tempat kerja, melewati daerah pasar. Saat itu pasar sangat penuh..aku berjalan selap selip..yah untunglah aku ckup ‘slim’ hihihi amien.. Tapi akhirnya aku terjebak juga di keramaian orang karena ada sebuah mobil pengangkut sampah yang lewat.. Setelah bebas dari keramaian itu, aku berjalan dengan santai. Tapi beberapa orang mulai melihat ke arahku dengan aneh. Apa sih liat2? Sampai kemudian ada seorang bapak penjual gorengan yang berkata padaku: “Neng, itu di kepala ada kecoa!” Kata aku dalam hati: Apa sih, gak mungkin. Dasar penggoda! Tidak aku hiraukan. Bapak itu bilang: “ih teu percaya-eun!!’

Akhirnya aku penasaran juga, kulirikkan mataku ke atas, dan Astagfirullah, di ujung ciput kerudungku, aku melihat ada 2 buah kumis yang bergerak2…

Shocked!!!Again!

Aku berhenti sejenak agar kecoa itu tidak kesana kemari di kepalaku. Aku memberanikan diri untuk menggunakan jariku membuangnya dari kepalaku. Dan aku tidak peduli dengan orang-orang yang saat itu menonton aku. Kupikir dengan sekali usapan tangan, dia akan jatuh. Kututup mulutku rapat2 walaupun rasanya ingin berteriak sekencang2nya..karena aku takut kecoanya masuk iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……..

Plakkkkkk….kupukul dia, tapi dia malah turun ke wajahku, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….mimpi apa aku semalam.. dicium sama kecoa…….huhuhuhuhu..

Aku berjuang terus sampai akhirnya kecoa itu jatuh ke jalan,,walaupun masih hidup.. huhuhu gustiii…aku tidak berkata sepatah katapun. Aku pergi dan terus berlalu, tidak menoleh ke belakang lagi..Aku hanya mendengar bapak itu tertawa-tawa sambil berkata: “Hahaha, samarukna bohong!!!hahaha” ..Bapak teganya dirimu tertawa di atas penderitaanku…huhuhuhuhuhu…Dosa apa saya ya Allah..

Setelah kejadian itu aku sempat bertanya dalam hati,,kenapa harus aku yang terpilih untuk disinggahi ‘dia’..padahal di pasar tersebut terdapat berpuluh-puluh orang yang berada dekat truk sampah itu. Why me??? 😦

Tapi akhirnya aku menemukan hikmahnya. Mungkin begitu juga dengan jatuhnya rezeki dari Allah,, tidak akan tertukar, walaupun di dunia ini terdapat bertrilyun2 manusia.

Dan Alhamdulillah sejak saat itu aku berusaha untuk berdamai dengan yang namanya kecoa. Berusaha menahan diri jika dia ada dalam radius minimal 5 meter. Kalo dulu kan dikejar-kejar sampai digebukin. Tapi kalo sudah dianggap mengancam keselamatan lahir batin, maka rasanya aku tidak punya pilihan huhuhu..Forgive me Allah..

Ya Allah, bila pertemuanku dengan kecoa hanya akan membuat aku bermaksiat padamu, maka jangan biarkan kami bertemu…heu2..amien..

Iklan